Ciri - Ciri Cowok Gamers :
1. Jarang keluar rumah (paling keluar ya ke warnet)
2. Jarang punya pacar (sibuk nge game)
3. Jarang sms an (sibuk ngechat sama Gamers)
4. Bersikap dingin sama cewek (cuek)
5. Kalaupun punya pacar , pasti jarang berduaan (sibuk nge game)
Tapi cowok Gamers itu :
• Gak manja
• Mandiri
• Banyak teman
• Jarang sedih
• Sekalipun punya pacar, pasti gak bakal selingkuh, dan setianya
seperti setia sama game nya, karna jarang ketemu, sekali ketemu pasti
kangen
Jadi..
Jangan asal menilai bahwa Gamers itu buruk.
^_^
4 Januari 2013
21 Juli 2012
Tak Cukup Hanya Cinta
“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-masing membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.
“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.
“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.
“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”
“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.
23 November 2011
about my story
Beberapa orang sahabat bertemu dan menceritakan kepadaku tentang kepahitan cinta. Tentang begitu tersiksanya mereka karena putus cinta. Seakan cinta merampas sebagian dari jiwa kebahagian yang mereka miliki. Bahkan yang lebih buruknya lagi cinta seakan menjadi makhluk yang menjijikan dan menakutkan, yang anehnya malah berteman dan menjadi intim dengan mereka.
Tak ada yang bisa ku katatakan selain menyuruh mereka meninggalkan cinta yang memakan jiwa kebahagiaan itu. Melihat kenyataan bahwa dirinya tersakiti oleh cinta, bahkan lebih hampa dari tak memiliki cinta. Mereka menerima itu dan terlihat seakan semua masuk akal. Mereka menjadi lebih rasional! Namun semua seakan sandiwara yang tak berujung!
Entah berapa kali air mata tertumpah bahkan sampai kering pula. Tangisanpun tak terdengar lagi, parau! Namun cinta bagai nafas. Cinta adalah air yang memberi kehidupan. Semakin sedih mereka dan menangis dihadapanku, semakin keras diriku menyuruh meninggalkan cinta itu, maka semakin lekat pula cinta itu. Seakan cinta, indah dan menyakitkan, menjadi makhluk yang dengan eratnya bercokol di dalam daging yang bernama hati. Bahkan telah menggerogoti hati dan hatipun berubah menjadi “cinta”! Tak ada daging tak ada darah, hanya cinta…
Kini semua pengalaman yang mereka rasakan menjadikanku sebagai seorang mengerti bahwa jika berani menghidupkan api cinta, maka bersiaplah dengan kenyataan bahwa dirimu akan “terbakar”. Terbakar karena nikmatnya, dan hangus karena sakitnya. Namun semua seakan sambel yang pedis, yang mencabik-cabik lidah, namun tak akan membuat orang jera!
Cinta membuat seseorang berkorban. Bahkan sanggup membuat seseorang mengeluarkan kekuatan supranaturalnya demi cinta. Cinta bahkan membingungkan? Bahkan begitu penuh rasa atau malah terasa hambar, entalah…!!!
Tak ada yang bisa ku katatakan selain menyuruh mereka meninggalkan cinta yang memakan jiwa kebahagiaan itu. Melihat kenyataan bahwa dirinya tersakiti oleh cinta, bahkan lebih hampa dari tak memiliki cinta. Mereka menerima itu dan terlihat seakan semua masuk akal. Mereka menjadi lebih rasional! Namun semua seakan sandiwara yang tak berujung!
Entah berapa kali air mata tertumpah bahkan sampai kering pula. Tangisanpun tak terdengar lagi, parau! Namun cinta bagai nafas. Cinta adalah air yang memberi kehidupan. Semakin sedih mereka dan menangis dihadapanku, semakin keras diriku menyuruh meninggalkan cinta itu, maka semakin lekat pula cinta itu. Seakan cinta, indah dan menyakitkan, menjadi makhluk yang dengan eratnya bercokol di dalam daging yang bernama hati. Bahkan telah menggerogoti hati dan hatipun berubah menjadi “cinta”! Tak ada daging tak ada darah, hanya cinta…
Kini semua pengalaman yang mereka rasakan menjadikanku sebagai seorang mengerti bahwa jika berani menghidupkan api cinta, maka bersiaplah dengan kenyataan bahwa dirimu akan “terbakar”. Terbakar karena nikmatnya, dan hangus karena sakitnya. Namun semua seakan sambel yang pedis, yang mencabik-cabik lidah, namun tak akan membuat orang jera!
Cinta membuat seseorang berkorban. Bahkan sanggup membuat seseorang mengeluarkan kekuatan supranaturalnya demi cinta. Cinta bahkan membingungkan? Bahkan begitu penuh rasa atau malah terasa hambar, entalah…!!!
Langganan:
Postingan (Atom)